Jumat, 28 November 2014

PART II : SAMPAI BERLALU

Cinta itu aneh, iya.. dari dulu sampai sekarang aku tetap saja menyebutnya sebagai hal yang aneh. 5 huruf yang bisa bikin mood campur aduk, 5 huruf yang bahkan bisa menentukan akan seperti apa kita hari ini. Yaa, walaupun ada sebagian dari kalian yang akan bilang tidak pas baca tulisan ini. Tapi kalau di pikir-pikir lagi kalian pasti mengiyakan. Sebab, segala yang kita lakukan harus di dasari dengan cinta, itu kalau mau hasilnya baik sih, kalau nggak ya lain lagi.

***

Mas, duduk di belakangmu sambil menikmati udara malam yang menenangkan dulu memang gak pernah berani adek bayangin. Jangan tanya kenapa mas, karena saat adek menyimpan sebuah rasa, adek akan di rundung rasa takut, takut untuk melihat 'bunga' itu mekar. Andai mas tahu, selama setahun ini adek menyimpan sebuah harapan yang besar. Iya, harapan yang terlanjur muncul tanpa mempedulikan apa ada adek di hati mas. Harapan yang sebenernya adek juga gak pernah nyuruh dia datang. Tapi, waktu memang terlanjur membuat hati adek bergejolak mas.

Mas, andai mas tahu, saat mas begitu asik menceritakan tentang masa lalu mas, perasaan iri dan pengen nangis suka muncul gitu aja, dan adek selalu berhasil menutupinya dengan senyuman, iya senyuman yang tak akan merubah image adek sebagai gadis kecil yang ceria di mata mas.

***
"Dek, heiii,,, jangan diem dong, biasanya aja suka cerewet tanpa batas". Kalimatmu membuyarkan lamunanku, mas.

"Ih, mas apadeh? Mas ndak malu apa? Daritadi kita ngekek-ngekek gak jelas kek orang yang otaknya geser tauk".

"Hahahaha, kamu tuh geser, mas gak ikutan, weekk.."

"Ini sebenernya mau kemana deh ah? Bosen muter-muter mulu, dingin tauk"

"Iya, ya.. ini sebenernya kita mau kemana sih?"

"Mas, muter sekali lagi adek tinju dari belakang"

"Hehe, iyadeh iya, mas juga bentar lagi mau ada latihan band nih, kita kesana aja ya". Sambil nunjuk ke suatu arah, bukan tangannya yang nunjuk, tapi mukanya.

"Heleeeh, daritadi kek. Mas sengaja ya ngajak adek muter-muter gabawa helm gini? Biar apa? Biar Orang-orang tau rambut mas layak jadi iklan shampo?"

"Hahahahaha, iya, shampo r*nso".

Bersambung...


Kamis, 13 November 2014

PART I : SAMPAI BERLALU

Mas, adek kurang paham ini sebenarnya rasa apa. Iya, adek tau adek nyaman kalau sama mas, tapi apa nyaman ini tidak bertepuk sebelah tangan? Apa mas juga nyaman sama adek?

Pertanyaan itu selalu bersanding dengan segala anganku tentang Mas. Mas selalu saja jadi orang pertama yang ada saat adek butuh seseorang. Mas selalu saja berhasil bikin adek sekedar tersenyum. Mas selalu jadi moodboosternya adek.

Tapi mas, adek takut, takut untuk berharap lebih. Takut keburu punya rasa duluan yang akhirnya malah bikin adek sakit hati kalau nyatanya mas tidak punya rasa seperti yang adek punya.

***

SAMPAI BERLALU"Hei imut, lagi apa?" Seperti biasa, sekedar sapaan sederhanamu mampu memecahkan kesuraman pagiku. Iya, rasanya aku seperti tak peduli pada mendung yang menutupi mentari.

"Lagi siap-siap mau sekolah, Mas. Mas baru pulang shift malam ya mas?"

"Dih, hafalnyaa. Sejak kapan ade hafalin jadwal mas? hahahaha.."

"Hadeeeh, bukannya kemarin mas sendiri yang bilang kalau lagi shift malem? Gimana deh?"

Dalam hati sih, pengen bilang iya, iya adek hafalin setiap kegiatan mas, adek mau belajar ngertiin mas dengan segala kegiatan mas. Ah, apa? Belajar ngertiin? Entahlah, jantung aku selalu berhasil nendang-nendang setiap kali mas nyapa aku, setiap kali aku liyat mata mas yang berbinar indah.

***

"Dek, di rumah gak? Main bentar sama mas yuk, ndak sibuk kan?"

"Kemana mas? Iyasih ndak sibuk, tapi kemana dulu deh?"

"Pokoknya ada aja, uda siap-siap, setengah jam dari sekarang mas jemput ya."

Aaaaahhh ada apa ini? Tumbenan, pasti mau ceritain mantan-mantannya lagi deh. Iya, mas biasa curhatin soal mantan-mantannya gitu. Mantannya cantik-cantik, kalau aku pengen masuk ke hati dia apa juga harus lebih cantik dari mereka? Hah?? Masuk ke hati dia?? Iya, aku seperti mengagumi dan menyayangi dia, aku sulit membedakan mana sekedar rasa kagumku dan mana rasa sayangku, keduanya sama-sama didasari rasa suka.

"Assalamu'alaikum.."

"Wa'alaikumsalam.."

Dia sudah sampai rumah, aku bilang ke ibu mau pergi keluar sebentar sama dia, dia juga ijin mau ngajak aku keluar.

Di jalan, dia cuman ngajak aku muter-muter sambil kita bercandaan gak jelas, ketawa-ketawa berasa di jalanan gak ada orang lain selain kita.


Bersambung..


Selasa, 11 November 2014

[PART:III] KASIH, DIMANA HATIMU ??


Kau memintaku sepenggal kata, namun aku berikan cerita..
Ku meminta padamu seberkas cahaya, namun engkau berikan kegelapan..
Hanya kenangan yang tersisa, hanyut dalam sepenggal kisah..
Hingga kerapuhan terasa, kerinduan memaksa..
Tiada sekejap ku terdiam, tiada sempat ku merasakan..
Ku menanti namun kau menghilang, tanpa bahasa..
By : Afgan - Tanpa Bahasa

Hujan, aku mohon.. datanglah walau hanya sebentar, datanglah walau hanya sedikit membasahi tanah tandus ini. Hujan.. aku mohon.. bantu aku, bantu aku menghanyutkan semua kisah aku sama dia. Aku nggak mau rasa ini semakin menggumpal hanya untuk orang yang salah. Aku nggak mau segala rasa yang tertinggal ini menjadi penyumbat aliran langkahku untuk menggapai masa depan.

***

Aku langsung nanya soal sms itu ke Ivan, dia bilang itu sms salah kirim. Tapi logikanya, ya masak sms salah kirim langsung nanya lagi apa sih? Kayaknya ada something wrong disini. Oke, aku iyain aja tanpa melupakan. Iya, aku tetep penasaran dan pingin tau itu sebenernya siapa.

Akhir-akhir ini aku sama dia emang suka jarang kontek-kontekan sih, ya you knowlah dia siapa. Kesibukannya emang kadang suka bikin komunikasi kita nyandet-nyandet kek signal tanpa subsidi yang mahal itu. Dia lagi sibuk di forum, iya semacam bimbingan atau pelatihan gitulah, aku juga gak paham. Yang aku tahu itu forum se Jawa Timur, dimana dia bisa ketemu sama banyak siswa-siswa lain dari SMP-SMA/SMK yang juga terpilih buat wakilin sekolah mereka masing-masing.

Eh, tunggu.. Apa dia lagi punya gebetan baru ya?
Ah, masak sih? Setahu aku dia sayang banget sama aku. Duh, gabole keliyatan bodoh kan? Oke aku harus cari tau.

***

Makin kesini aku makin ngerasa sikapnya janggal banget. Kalau kemarin-kemarin kan sesibuk apa pun dia pasti nyempetin buat ngabarin aku, lhah sekarang?? Sms sekali aja kadang dia juga lupa.

Sampai suatu hari dia bener-bener gak ada kabar seharian. Aku bingung cari tau soal dia. Ah, apa? Bingung?? Iya, ini rasanya seperti bingung yang bertepuk sebelah tangan.

"Mbak, mbak tau ndak Ivan kemana?" Kalimat lelahku mulai terdengar dari ujung telpon mbak Mia, kakaknya Ivan.

"Eh, Lala. Lho, Ivannya kan lagi main ke pantai, La. Memangnya ndak sama kamu? Mbak pikir sama kamu. Ini juga dia belum pulang."

What?? Pantai??
Ah, sial. Aku bener-bener uda gak dianggep kalau kayak gini caranya.
Hah?? Memangnya aku siapa?? Cuma pacar gini >.<

Hari ini hati aku bener-bener dongkol. Rasanya kayak ditabokin sama kaki gajah tauk. Sakiiiiittttt.
Rasanya pengen banget marah, pengen banget ngeluapin semua rasa kecewa aku ke dia. Tapi apa? Aku cuma cewek, yang marah pun aku harus terlihat anggun kan? Yap, cara paling tepat adalah, diam.

Malemnya dia ke rumah.
"La, maaf ya aku hari ini ndak ada ngabarin kamu sama sekali". Dia ngomong tanpa beban banget, dan aku? Iya iya aja, ho-oh ho-oh aja >.<

***

Hari ini seperti biasa, kalau dia ada waktu luang dia sempetin jemput aku PSG terus kita jalan bareng. Tapi sepanjang perjalanan aku ngerasa ini bener-bener kayak bukan dia, feelnya itu gak dapet banget, ada yang aneh.

Dan kecurigaanku pun bener-bener berwujud.
"La, aku pengen kita break dulu ya"

"Apa, Van? Break? Untuk apa?" Nangis kan aku jadinya.

"Kita keknya akhir-akhir ini sering marahan deh, sering jutek-jutekan gitu. Aku pengen kita introspeksi diri dulu. Aku juga lagi ada masalah soalnya, aku gamau masalah aku sampe berimbas ke kamu."

"Tapi aku ada salah apa sama kamu, Van? Aku tuh akhir-akhir ini ngerasa sikap kamu ke aku berubah banget. Oke memang selama ini aku selalu milih diem. Tapi kenapa Van? Kenapa? Apa kita gabisa bicarain baik-baik? Kenapa harus break, Van?" Eh, buset dah makin kenceng aku nangisnya.

"Iya, aku tau mungkin kamu sekarang ngerasa banyak yang berubah dari aku, banyak yang berubah sama sifat sikap aku. Nanti kalau masing-masing dari kita udah tau salahnya masing-masing, kepalanya juga udah dingin, baru kita ketemu lagi, gimana?"

"Yaudalah, Van. Terserah kamu aja". Aku lelah berdebat. Iya, aku paling malas berdebat, apalagi soal hati.

***

Seminggu kelabu udah berhasil aku lewati dengan awan mendung yang tak juga singgah dari kepalaku, dengan kamu yang seperti kepulan asap yang selalu berhasil memenuhi ruang-ruang kosong di otakku, dengan kamu yang mungkin sekarang malah sudah berhenti memikirkanku. Entahlah, aku seperti ingin menyerah tapi juga ingin bertahan. Aku begitu menyayanginya yang selalu menyuguhkan kenyamanan untukku. Tapi aku juga mulai lelah harus tetap diam dengan segala rasa yang berkecamuk di hatiku.

"La, kita udahan aja ya. Aku gabisa nerusin semua ini, La. Maafin aku yang berhenti perjuangin kamu, La. Maafin aku.."

SMS itu tiba-tiba muncul di layar HP ku. Ivan minta kita udahan, iya, Ivan minta kita putus. Rasanya bintang gemerlap yang dia suguhkan seperti jatuh satu persatu. Aku bingung, masih banyak pertanyaan di benakku dan tak satupun dari pertanyaan itu terjawab.

Hingga esoknya aku melihat post foto dia sama cewek lain di FB dia. Iya, sama cewek lain. Jadi dia yang udah berhasil gantiin posisi aku sekarang? Parahnya lagi aku tau mereka udah jadian. Dan jadiannya itu pas Ivan masih sama aku. Iya, Ivan selingkuh. Ivan gak ngehargain kesetiaan aku sama sekali.

Hai, cantik, siapa pun kamu. Makasih ya, makasih udah hadir diantara aku dan Ivan. Makasih karena dengan kehadiranmu aku jadi tau bahwa rasa sayang Ivan untukku tak setebal rasa sayangku untuk dia. Makasih karena dengan kehadiranmu aku juga jadi tau, bahwa dia memang tak pernah benar-benar ingin mempertahankanku.

Pelangi, aku tahu kamu indah. Aku tahu kamu bisa menyunggingkan senyuman di raut wajahku. Tapi kini, aku harus menerima kenyataan bahwa hadirmu memang hanya untuk sementara. Menyuguhkan keindahan untukku, lalu pergi.


Oleh : Chikita Nawaristika

=======================================================

Baca cerita sebelumnya di :